.::Nurii Blog::.

nurita blog :) happy reading :) enjoy~~

Minggu, 27 April 2014

Karangan Ilmiah Populer dan Contohnya



PENGERTIAN KARANGAN ILMIAH POPULER DAN CONTOHNYA

Pengertian Karangan Ilmiah Populer
Menurut Wardani,  (2007:17), “Karya ilmiah populer adalah karya ilmiah yang disajikan dengan gaya bahasa yang populer atau santai sehingga mudah dipahami oleh masyarakat dan menarik untuk dibaca”.
Dalam KBBI (2002:370-371) disebutkan bahwa kata ilmiah diartikan sebagai bersifat ilmu atau memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan, sedangkan ilmiah populer diartikan sebagai mengunakan bahasa umum sehingga mudah dipahami oleh masyarakat awam.
Jadi, karya ilmiah populer merupakan suatu karya yang ditulis dengan menggunakan bahasa yang populer dan santai sehingga mudah dipahami oleh masyarakat dan menarik untuk dibaca.


Ciri- ciri tulisan  ilmiah Populer 
Ciri-ciri karya ilmiah populer menurut Hakim (2004 : 57) diurutkan sebagai berikut:
a.      Bahan berupa fakta yang objektif
b.      Penyajian menggunakan bahasa yang cermat, tidak terlalu formal tapi tetap taat asas, disusun secara sistematis, tidak memuat hipotesis.
c.      Sikap penulis tidak memancing pertanyaan-pertanyaan yang meragukan.
d.      Penyimpulan dilakukan dengan memberikan fakta.

Berikut adalah contoh tulisan karangan ilmiah populer

Cara Ampuh Mengatasi Rasa Malas

Kemalasan merupakan musuh produktivitas dan sering dialami oleh setiap orang. Jika rasa malas itu timbul, segala aktifitas akan terasa berat dan tidak akan ada yang mampu kita lakukan karena rasa malas yang begitu dominan, sehingga hal-hal yang mampu kita lakukan menjadi tertunda dan terbengkalai. Jika dilakukan pun hasilnya tidak akan maksimal karena mengerjakannya tidak dengan sungguh-sungguh. Hal itu tentu merepotkan diri kita sendiri termasuk segala pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita. Untuk mengatasi rasa malas harus dimulai dari pembenahan diri dan kesadaran diri sendiri, berikut adalah tips yang berguna untuk mengatasi rasa malas:
1.      Olah raga
Anda bisa merasa malas jika Anda tidak memiliki energi yang cukup untuk melakukan aktivitas Anda. Berolahraga adalah cara yang baik untuk meningkatkan tingkat energi Anda sehingga Anda merasa berenergi dan waspada sepanjang hari.
2.       Istirahat yang cukup
Tidak memiliki cukup istirahat juga bisa membuat Anda malas. Bagaimana Anda merasa antusias jika Anda mengantuk? Jadi pastikan bahwa Anda memiliki istirahat yang baik dan cukup.
3.      Tetapkan batas waktu minimum untuk memulai
Hal yang paling sulit adalah untuk memulai – sisanya akan lebih mudah. Jadi tetapkan sedikit waktu, seperti 15 menit atau bahkan 5 menit, dan mulailah mengerjakan tugas sampai waktunya habis. Setelah itu, akan lebih mudah memutuskan untuk melanjutkan.
4.      Melihat manfaat
Salah satu alasan kita menjadi malas karena kita hanya melihat kesulitan dari tugas ke depan tanpa memikirkan manfaat yang akan kita dapatkan ketika kita menyelesaikannya. Jadi fokuskan pikiran Anda pada manfaat yang didapat bukan pada kesulitan yang Anda hadapi.
5.      Pikirkan tentang apa yang akan terjadi jika Anda tidak melakukannya
Sementara berpikir tentang manfaat yang dapat memotivasi Anda, pikirkan juga tentang kerugian jika Anda tidak melakukan tugas-tugas tersebut. Apa konsekuensi jika Anda tidak melakukan apa yang seharusnya Anda lakukan?
6.      Cari partner
Partner dapat memotivasi Anda untuk mengatasi kemalasan. Meskipun motivasi dari dalam diri adalah yang terbaik, kadang-kadang kita juga perlu motivasi dari luar.
7.      Meminimalkan waktu kosong
Nyatakan tekad Anda untuk meminimalkan waktu kosong. Cobalah untuk melakukan sesuatu sesering mungkin. Jika Anda memiliki pola pikir ini, akan lebih mudah untuk mengatasi kemalasan.
8.      Bagilah tugas menjadi bagian-bagian kecil
Kita bisa menjadi malas jika kita merasa kewalahan oleh tugas. Dalam kasus tersebut, membagi tugas menjadi bagian-bagian kecil yang lebih terkelola, dan kemudian tangani mereka satu per satu.
9.      Putuskan apa tindakan selanjutnya
Kita mungkin menunda-nunda karena kita tidak yakin apa yang harus dilakukan selanjutnya. Jadi lihatlah pada tugas Anda dan putuskan apa tindakan selanjutnya. Setelah Anda tahu persis apa yang harus dilakukan, maka akan lebih mudah untuk memulai.
10.  Melakukan satu hal pada sekali waktu
Ini mungkin tampak jelas, tetapi kita bisa menjadi malas karena kita mencoba untuk melakukan lebih dari satu hal pada sekali waktu. Itu membuat kita merasa kewalahan. Jadi pilih melakukan hanya satu hal pada sekali waktu dan mengabaikan sisanya.
11.  Tantang diri Anda
Sukai terlebih dahulu tugas Anda, lalu buatlah tugas menjadi menyenangkan dengan mengubahnya menjadi sebuah tantangan.
12.  Tuliskan kemajuan Anda
Anda akan lebih termotivasi jika Anda dapat dengan mudah melihat efek dari kemalasan. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan menuliskan kemajuan Anda setiap hari. Beri tanda setiap kali Anda menyelesaikan tugas. Kemalasan akan memberikan lembar kosong, dan Anda dapat dengan mudah melihat betapa buruknya hal itu.
13.  Melihat kemajuan orang lain
Mengetahui seberapa jauh Anda di belakang dibandingkan dengan orang lain juga bisa memotivasi Anda. Lihatlah hal-hal baik pada orang lain tersebut, pada area mana bisa Anda perbaiki, dan biarkan mereka menginspirasi Anda.
14.  Menyelaraskan diri dengan apa yang penting menurut Anda
Lebih mudah untuk mengatasi kemalasan jika Anda melakukan sesuatu yang penting menurut Anda. Anda akan memiliki semangat dalam diri yang membuat Anda ingin bertindak. Jadi temukan sesuatu yang penting tersebut dan selaraskan diri Anda sebanyak mungkin dengan hal tersebut




Sumber Referensi :

Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Hakim, M. Arief. 2005. Kiat menulis Artikel di Media; Dari Pemula Sampai Mahir (Edisi Revisi). Bandung: Penerbit Nuansa Cendikia.


Wardani, I.G.A.K. dkk. 2007. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: Universitas Terbuka.

Minggu, 30 Maret 2014

PEMAKAIAN METODE ILMIAH DALAM MENJAWAB PERTANYAAN ILMIAH


PEMAKAIAN METODE ILMIAH DALAM MENJAWAB PERTANYAAN ILMIAH

1.     Pengertian Metode
Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Dapat dikatakan metode adalah suatu cara, pendekatan, atau proses dengan menerapkan prinsip-prinsip kelogisan yang digunakan dalam suatu penelitian guna memahami suatu objek penelitian dan mencapai suatu tujuan serta dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

2.     Pengertian Metode Ilmiah
Asep Hermawan, (2009:5), mengungkapkan “Metode ilmiah merupakan penggabungan antara rasionalisme dan empirisme. Metode ilmiah merupakan suatu cara berpikir dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu atau pengetahuan ilmiah (science). Dapat dikatakan bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan metode ilmiah. Metode ilmiah dapat pula diartikan sebagai cara-cara atau prosedur yang digunakan untuk menganalisis fakta-fakta empirik dalam menguji pernyataan-pernyataan teoritik.”
Menurut Dermawan Wibisono, (2003: 5), “Secara lebih luas, metode ilmiah dalam riset bisnis didefinisikan sebagai teknik dan metode yang membantu peneliti untuk mengetahui dan memahami fenomena bisnis. Metode ilmiah membutuhkan analisis sistematik dan interpretasi logis dari bujkti-bukti empiris (kenyataan dari pengamatan atau eksperimen) untuk mengkonfirmasikan atau membuktikan konsepsi awal.”
Dapat ditarik kesimpulan bahwa metode ilmiah adalah suatu pendekatan berupa cara-cara dan prosedur-prosedur yang teratur dan sistematis digunakan oleh peneliti dalam menganalisis fakta-fakta dengan langkah-langkah identifikasi dan analisis masalah, pengumpulan data, menarik kesimpulan dan merevisi teori untuk menguji atau membuktikan konsep (pernyataan) awal.

3.     Karakteristik Metode Ilmiah
      Umumnya terdapat empat karakteristik penelitian ilmiah, yaitu:
1)      Sistematik
Berarti suatu penelitian harus disusun dan dilaksanakan secara berurutan sesuai pola dan kaidah yang benar, dari yang mudah dan sederhana sampai yang kompleks.
2)      Logis
Suatu penelitian dikatakan benar bila dapat diterima akal dan berdasarkan fakta empirik. Pencarian kebenaran harus berlangsung menurut prosedur atau kaidah bekerjanya akal yaitu logika. Prosedur penalaran yang dipakai bias dengan prosedur induktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan umum dari berbagai kasus individual (khusus), atau prosedur deduktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus dari pernyataan yang bersifat umum.
3)      Empirik
Artinya suatu penelitian yang didasarkan pada pengalaman sehari-hari, yang ditemukan atau melalui hasil coba-coba yang kemudian diangkat sebagai hasil penelitian. Landasan empirik ada tiga yaitu :
(a)    Hal-hal empirik selalu memiliki persamaan dan perbedaan (ada penggolongan atau perbandingan satu sama lain).
(b)    Hal-hal empirik selalu berubah-ubah sesuai dengan waktu.
(c)     Hal-hal empirik tidak bisa secara kebetulan,melainkan ada penyebabnya.
4)      Replikatif
Artinya suatu penelitian yang pernah dilakukan harus di uji kembali oleh peneliti lain dan harus memberikan hasil yang sama bila dilakukan dengan metode, kriteria, dan kondisi yang sama. Agar bersifat replikatif, penyusunan definisi operasional variable menjadi langkah penting bagi seorang peneliti.

4.     Langkah – Langkah Metode Ilmiah
Menurut Abdurrahmat Fathoni (2006 : 71) langkah metode ilmiah ada lima, yang meliputi:
1)     Penetapan masalah
2)     Penyusunan kerangka berpikir dan premis-premis
3)     Perumusan hipotesis
4)     Pengujian hipotesis
5)     Penarikan hipotesis
Sedangkan menurut Soetriono dan Rita Hanafi (2007 : 157) ada enam langkah-langkah sistematis keilmuan, yaitu :
1)     Mencari, merumuskan dan mengidentifikasi masalah
2)     Menyusun kerangka berfikir
3)     Merumuskan hipotesis secara empirik
4)     Melakukan perubahan
5)     Menguji hipotesis secara empirik
6)     Menarik kesimpulan

5.     Pertanyaan Ilmiah
       Pertanyaan ilmiah adalah rasa ingin tahu seseorang akan sebuah informasi yang berdasarkan atau dilandasi oleh ilmu pengetahuan yang sudah ada. Jadi pertanyaan ilmiah haruslah berdasarkan pengetahuan yang ada, bukan sembarang pertanyaan tanpa landasan fakta atau ilmu.

6.    Syarat Pertanyaan dalam Penelitian Ilmiah
      Pada hakikatnya pertanyaan penelitian dirumuskan dengan melihat kesenjangan yang terjadi antara:
a)      Apa yang seharusnya terjadi (prescriptive) dan yang sebenarnya terjadi (descriptive).
b)      Apa yang diperlukan (what is needed) dan apa yang tersedia (what is available).
c)       Apa yang diharapkan (what is expected) dan apa yang dicapai (what is achieved).
     Pertanyaan penelitian selalu diawali dengan munculnya masalah-masalah yang sering disebut sebagai fenomena atau gejala tertentu. Tetapi tidak semua masalah bisa diajukan sebagai masalah penelitian. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar bisa diangkat sebagai masalah penelitian. Berdasarkan kajian referensi buku-buku metodologi peneltian, setidaknya terdapat tujuh syarat yang harus dipenuhi, yaitu:
a)     Tersedia data atau informasi untuk menjawabnya.
b)      Data atau informasi tersebut diperoleh melalui metode ilmiah, seperti wawancara, observasi, kuesioner, dokumentasi, partisipasi, dan evaluasi/tes.
c)       Memenuhi persyaratan orisinalitas, diketahui melalui pemetaan penelitian terdahulu (state of the arts).
d)      Memberikan sumbangan teoretik yang berarti bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
e)      Menyangkut isu kontroversial dan unik yang sedang hangat  terjadi.
f)        Masalah tersebut memerlukan jawaban serta pemecahan segera, tetapi jawabannya belum diketahui masyarakat luas, dan
g)      Masalah itu diajukan dalam  batas  minat  (bidang studi) dan kemampuan peneliti.
    Untuk mencapai maksud tersebut di atas, peneliti perlu melakukan pertanyaan reflektif sebagai pemandu. Menurut Raco (2010: 98), ada beberapa pertanyaan awal untuk dijawab sebagai berikut:
a)      Mengapa masalah tersebut penting untuk diangkat.
b)      Bagaimana kondisi sosial di sekitar peristiwa, fakta atau gejala yang akan diteliti.
c)      Proses apa yang sebenarnya terjadi di sekitar peristiwa  tersebut.
d)      Perkembanghan atau pergeseran apa yang sedang berlangsung pada waktu peristiwa terjadi, dan
e)      Apa manfaat penelitian tersebut baik bagi pengembangan ilmu pengetahun dan masyarakat secara luas di masa yang akan datang.

7.     Jenis Pertanyaan Ilmiah
      Dilihat dari jenis pertanyaannya, para ahli metodologi penelitian seperti Marshall & Rossman (2006), dan Creswell (2007: 107) setidaknya membaginya menjadi tiga macam pertanyaan, yaitu:
a)      Deskriptif
Yaitu mendeskripsikan fenomena atau gejala yang diteliti apa adanya, dengan menggunakan kata tanya ‘apa’. Lazimnya diajukan untuk pertanyaan penelitian kualitatif.
b)     Eksploratoris
Yaitu untuk memahami gejala atau fenomena secara mendalam, dengan menggunakan kata tanya “bagaimana”. Lazimnya diajukan untuk pertanyaan penelitian kualitatif.
c)      Eksplanatoris 
Yaitu untuk menjelaskan pola-pola yang terjadi terkait dengan fenomena yang dikaji, dengan mengajukan pertanyaan ‘apa ada hubungan atau korelasi, pengaruh antara faktor X dan Y. Lazimnya untuk pertanyaan penelitian kuantitatif.

8.     Ciri Masalah Penelitian yang Baik
a)      Memiliki nilai kebaruan (novelty).
b)     Jawabannya penting untuk diketahui masyarakat luas
c)       Memiliki nilai nilai guna atau manfaat.
d)      Fisibel, artinya terjangkau dari sisi perolehan data, biaya, waktu, dan kualifikasi peneliti.
e)      Tidak bertentangan dengan norma atau nilai yang ada di tempat penelitian dilakukan.

9.     Tipe Penelitian
a)      Berdasarkan bidang yang dikaji: pendidikan, manajemen pendidikan, sejarah, bahasa, hukum, politik, agama, politik dsb.,
b)     Berdasarkan lokus atau tempat penelitian: lapangan, laboratorium, pustaka.
c)      Berdasarkan pemakaian: dasar (basic)  atau murni (pure) dan terapan (applied).
d)     Berdasarkan tujuan utama: deskriptif, eksploratif, eksplanatif, verifikatif.

10.    Klasifikasi Penelitian Menurut Metode
1)      Penelitian Survey
Ialah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi dan hubungan-hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis. Penelitian survey pada umumnya dilakukan untuk mengambil suatu generalisasi dari pengamatan yang tidak mendalam.
2)      Penelitian Ex Post Facto
Adalah suatu penelitian untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian merunut ke belakang untuk untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut.
3)      Penelitian Sejarah (Historical Research)
Adalah penelitian yang berkenaan dengan analisis yang logis terhadap kejadian-kejadian yang berlangsung di masa lalu.

11.  Penggunaan Metode Ilmiah dalam Menjawab Pertanyaan Ilmiah
 Sebelum peneliti menggunakan metode ilmiah untuk menjawab sebuah pertanyan ilmiah, seorang peneliti harus mengetahui masalah apa yang dapat diselesaikan secara ilmiah dan masalah yang dapat diselesaikan tanpa adanya proses ilmiah. Ada 2 jenis permasalahan yang dapat terjadi yaitu:
a)      Permasalahan yang dapat diselesaikan tanpa harus diadakan penelitian, karena permasalahan ini dapat diselesaikan secara langsung dengan musyawarah atau pun diskusi.
b)      Permasalahan yang harus diselesaikan dengan menlakukan penelitian terlebih dahulu. Karena permasalahan ini tidak dapat diselesaikan secara langsung, dan memerlukan kajian-kajian teori atau bukti-bukti yang jelas untuk memperkuat hasil penelitian.
Untuk menjawab pertanyaan yang bersifat ilmiah, diperlukan proses penelitian dengan menggunakan metode-metode yang bersifat ilmiah, yang tidak lepas dari adanya pencarian masalah yang sedang up to date, peneliti harus membatasi cakupan dari masalah yang hendak diteliti. Mengumpulkan teori-teori pendukung untuk menjadi landasan teori dari masalah yang hendak diteliti. Merumuskan hipotesis atau pendugaan sementara tentang hasil yang diinginkan. Mengumpulkan data-data yang hendak diteliti agar penelitian tepat dalam mengukur masalah. Pengujian hipotesis yang didapat dari data yang telah dikumpulkan. Lalu peneliti dapat menarik kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukannya.

 

Daftar Pustaka

Fathoni, Abdurrahmat. 2006. Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi. Jakarta: Rineka Cipta.

Hermawan, Asep. 2009. Penelitian Bisnis Paradigma Kuantitatif. Jakarta : Grasindo.

Nurfajriah, Sheily. 2013. Pengertian, Karakteristik, dan Langkah-Langkah Metode Ilmiah. Dalam http://sheilynurfajriah.blogspot.com/2013/04/pengertian-karakteristik-dan-langkah.html

Rahardjo, Mudjia. 2011. Merumuskan Pertanyaan Penelitian (Bahan Kuliah Metodologi Penelitian Program S2 MPI). Dalam http://mudjiarahardjo.uin-malang.ac.id/materi-kuliah/283-merumuskan-pertanyaan-penelitian.html

Salasa, Nadillah. 2014. Pemakaian Metode Ilmiah dalam Menjawab Pertanyaan Ilmiah. Dalam http://dillahsalasa.blogspot.com/2014/03/pemakaian-metode-ilmiah-dalam-menjawab.html

Soetriono, Rita Hanafie. 2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta : Andi Offset.

Wibisono, Dermawan. 2003. Riset Bisnis: Panduan bagi Praktisi dan Akademisi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.